Pojok Edukasi Sejawat

Kanker Pada Anak

Oleh: dr. Yudhi Kurniawan, Sp.A Kanker atau tumor ganas adalah pertumbuhan sel atau jaringan yang tidak terkendali, terus bertumbuh dan bertambah, serta immortal atau tidak dapat mati. Sel kanker dapat menyusup ke jaringan sekitar dan dapat membentuk anak sebar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memeprkirakan setiap tahun terdapat 400.000 anak terdiagnosis kanker. Kebanyakan penderita berada di negara yang memiliki pendapatan perkapita pertahun yang rendah ataupun menengah. WHO melalui Agensi Internasional untuk Riset Kanker (IARC) memperkirakan 8677 anak Indonesia berusia 0-14 tahun akan menderita kanker pada tahun 2020 dan kemungkinan akan meningkat setiap tahunnya. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara. WHO memfokuskan pada 6 jenis kanker melalui WHO Initiative for Chilhood Cancer yaitu : Kanker pada anak penyebab nya tidak diketahui dengan pasti tidak seperti dewasa. Keterlibatan genetik dan infeksi virus bisa sebagai salah satu penyebab kanker pada anak. Untuk memperbaiki luaran kanker pada anak sangat diperlukan adanya deteksi dini, perbaikan tatalaksana dan tentu saja terapi suportif untuk memperbaiki kualitas hidup penderita kanker. Deteksi dini memiliki komponen: Bagaimana keluarga bisa mengenali tanda dan gejala kanker pada anak yang tidak khas. Orang tua patut waspada apabila didapatkan keluhan antara lain: Apabila terdapat gejala seperti diatas bawalah segera anak untuk diperiksa ke dokter, untuk diketahui penyebab sakitnya. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk dapat menyingkirkan dan memantau gejala yang muncul. Sebagai simpulan kanker anak tidak dapat dicegah tetapi dapat diteksi pada tahap awal, pengenalan tanda dan gejala bahaya kanker pada anak akan meningkatkan kemungkinan deteksi dini. Deteksi dini atau pengenalan lebih awal akan meningkatkan dan memperbaiki harapan hidup pada anak penderita kanker, dan tentu saja peranan orang tua sangat besar dalam penentuan deteksi dini dan menentukan keberhasilan terapi.

Kanker Pada Anak Read More »

Demam Berdarah Dengue

Oleh : dr. Larangga Gempa B, Sp.PD Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue. Penularan virus tersebut diperantarai nyamuk Aedes sp. (Aedes aegepty dan Aedes Albopictus). Laporan tentang kasus DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya, lalu menyebar ke berbagai daerah di Indonesia sampai sekarang.DBD seringkali ditandai dengan demam yang bersifat mendadak, biasanya berlangsung selama 2-7 hari. Pola demam pada DBD disebut bifasik atau ada hari dimana pasien mengeluhkan demam yang tinggi yakni pada hari ke 2-3, demam mulai berkurang pada hari ke 4-5 namun pada inilah fase kritis dari DBD, lalu pasien kembali demam pada hari ke 6 namun tidak setinggi awalnya.Keluhan lain dapat berupa, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri di belakang bola mata, mual, muntah serta pada beberapa kasus terdapat bintik-bintik merah pada kulit, mimisan, buang air besar disertai darah segar atau kehitaman. Bahkan pada tingkatan yang lebih serius terdapat penurunan tekanan darah disertai tangan dan kaki yang dingin (syok) bahkan penurunan kesadaran.Jika seseorang mengalami keluhan di atas sebaiknya langsung berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan terdekat. Hal ini sangat penting dilakukan untuk melakukan evaluasi lanjutan. Selain menyampaikan keluhan yang dirasakan, pasien akan dilakukan pemeriksaan fisik dan juga laboratorium.Pemeriksaan laboratorium yang seringkali dilakukan adalah periksaan Darah Lengkap (DL), pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, leukosit serta trombosit. Dokter akan menginformasikan kepada pasien bahwa dirinya dicurigai DBD jika didapatkan peningkatan kadar Hematokrit, penurunan kadar leukosit, serta yang paling umum terjadi adalah penurunan kadar trombosit. Pada beberapa fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dapat dilakukan pemeriksaan NS1 serta IgG-IgM anti Dengue.Jika seseorang diduga DBD, maka dia tidak langsung dirawat inap. Dokter akan mengevaluasi apakah pasien tersebut memiliki indikasi rawat inap atau tidak. Beberapa indikasi yang mengharuskan pasien dirawat adalah mual muntah hebat sehingga tidak dapat makan dan minum, nyeri perut hebat, terdapat tanda-tanda syok, perdarahan seperti mimisan yang sulit berhenti, sesak nafas atau nafas tersengal-sengal, muntah darah, buang air besar darah segar maupun warna kehitaman, penurunan kesadaran. Serta ada beberapa indikasi lain seperti, pasien merupakan lansia, bayi dan anak-anak, serta pasien yang aksesnya jauh dari fasilitas kesehatan.Jika pasien tidak memiliki indikasi di atas maka, dapat dilakukan perawatan di rumah. Hal – hal yang perlu diperhatikan selama di rumah adalah, optimalkan asupan makan dan cairan, jangan sampai pasien mengalami dehidrasi, mengukur suhu setidaknya 2-3 kali perhari, waspada tanda-tanda syok dan perdarahan seperti di atas, istirahat yang cukup, kompres hangat, menggunakan obat penurun demam seperti parasetamol, serta rutin memeriksakan diri ke faskes terdekat setidaknya sehari sekali untuk memantau kadar hemoglobin, hematokrit, leukosit dan trombosit.Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan demam berdarah yaitu dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Plus seperti menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat semua tempat penyimpanan air, memanfaatkan limbah daur ulang plus menggunakan lotion anti nyamuk, penggunaan larvasida, memelihara ikan pemakan jentik dan lain-lain.

Demam Berdarah Dengue Read More »

Scroll to Top