Kegiatan

8 Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif yang Bisa Orangtua Kenali

Perbedaan anak aktif dan hiperaktif dapat terlihat pada kemampuannya untuk fokus. Anak yang aktif cenderung bisa fokus terhadap satu hal, sedangkan anak hiperaktif sulit melakukannya. Perbedaan anak aktif dan hiperaktif terkadang membingungkan. Anak aktif bisa menandakan kondisi tubuhnya sehat, tapi bisa juga menunjukkan gejala attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Meski demikian, anak aktif dan penuh energi tidak selalu berarti memiliki masalah terkait hiperaktivitas.Bagi orangtua yang tidak mengetahui apa itu hiperaktif, hiperaktif adalah kondisi di mana anak tidak bisa diam atau bahkan sulit fokus. Kecurigaan apakah anak yang penuh energi sekadar aktif atau justru hiperaktif, dapat diperhatikan dari kemampuannya melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Perbedaan anak aktif dan hiperaktif Jika dilihat sekilas, perbedaan anak aktif dan hiperaktif sulit dikenali. Namun, berikut beberapa perbedaan yang dapat Anda perhatikan: 1. Kemampuan fokus Anak hiperaktif sulit untuk fokus pada suatu halAnak aktif cenderung dapat fokus terhadap satu hal walaupun perhatiannya mudah teralihkan saat melihat hal-hal yang menarik. Namun, itu merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak. Sementara itu, anak hiperaktif sulit untuk fokus pada suatu hal, dan tidak bisa mengendalikan diri untuk terus bergerak. Kondisi ini bisa membuat anak susah berkonsentrasi, misalnya dalam mengikuti pelajaran di sekolah. 2. Memproses informasi Perbedaan anak aktif dan hiperaktif juga terletak pada kemampuannya memproses informasi. Anak aktif biasanya tidak akan mengalami kesulitan yang signifikan ketika harus memproses informasi. Rasa ingin tahunya yang besar juga membuat mereka cenderung pintar.Di sisi lain, anak hiperaktif bisa terhambat saat memproses informasi secara akurat. Perbedaan ini dapat terlihat secara akademis ketika murid harus merespons instruksi dengan cepat sekaligus akurat. 3. Cara bicara Bukan hanya pergerakannya yang lebih aktif, anak hiperaktif adalah anak yang juga banyak berbicara. Ia bahkan suka menyela pembicaraan orang lain atau ikut berbicara pada obrolan yang tidak melibatkan dirinya.Namun, berbeda dengan ciri-ciri anak hiperaktif, anak yang sekadar aktif lebih mudah diajak berbicara dan bisa menangkap kosakata yang diajarkan. 4. Mengikuti instruksi Anak hiperaktif bisa mengalami kesulitan mengikuti instruksi dan tetap terorganisasi. Contohnya, saat mengikuti kegiatan di sekolah, anak hiperkatif kesulitan bekerja sama dengan teman sebayanya atau mengikuti instruksi permainan. Selain itu, anak terlalu aktif juga sulit untuk mengorganisasi, merencanakan, menyusun skala prioritas, hingga mengingat detail terkecil dari hal yang bersinggungan dengannya.Di sisi lain, anak aktif tidak mengalami kesulitan berarti menjalankan hal tersebut. Meski punya energi melimpah, anak aktif tetap bisa fokus ketika sedang berusaha mewujudkan sebuah target. 5. Mengendalikan emosi Anak hiperaktif memiliki perasaan yang lebih sensitifSetiap anak memiliki cara berbeda menunjukkan emosi mereka, termasuk saat sedang tantrum sekalipun. Namun yang membedakan anak aktif dan hiperaktif adalah ketika merasakan emosi.Anak aktif bisa menjaga perasaannya dan tidak mudah menangis, kecuali saat marah, kesal, ataupun sedih.Sementara itu, anak hiperaktif memiliki perasaan yang lebih sensitif dan mudah merasa frustrasi sekaligus kewalahan dengan emosi yang muncul. Hal ini membuat anak menjadi mudah menangis. 6. Rasa lelah Perbedaan anak aktif dan hiperaktif selanjutnya terletak pada rasa lelah. Ketika merasa lelah, anak aktif akan beristirahat dan tidur untuk mengembalikan energi.Namun, anak hiperaktif seperti tidak mengenal rasa lelah. Ia cenderung memiliki waktu tidur yang lebih pendek, bahkan bisa mengalami ledakan energi di malam hari yang membuatnya sulit tidur. 7. Pergaulan dan hubungan sosial Dalam bersosialisasi, anak aktif biasanya mudah diterima karena cenderung lebih sabar dan mau mengalah. Sedangkan, anak hiperaktif tidak sabar dan enggan mengalah. Misalnya, ia tidak mau bergantian memainkan mainan yang disukainya. Kondisi ini membuat anak super aktif sering kali dijauhi oleh teman-temannya. Dalam jangka panjang, anak hiperaktif cenderung dapat menutup diri karena memiliki rasa percaya diri rendah. 8. Kedewasaan Secara usia, anak hiperaktif juga mencapai tahap kedewasaan lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. Contohnya. anak berusia 12 tahun bisa saja masih berpikir dan berperilaku seperti anak-anak, alih-alih sebagai anak remaja. Kemampuan mengambil keputusan terkait hal berisiko hingga pertemanan pun lebih lambat.Selain beberapa parameter di atas yang dapat membedakan anak aktif atau hiperaktif, gejala adanya masalah ADHD dapat terlihat seiring dengan pertumbuhan anak. Idealnya, anak yang aktif akan menunjukkan perkembangan fisik sekaligus psikologis sesuai dengan rentang usianya. Namun, anak hiperaktif bisa lebih lambat berkembang dibandingkan dengan usia seharusnya. Baca Juga Mengenal Generasi Alpha dan Cara Mendidiknya6 Tips Parenting Anak Cerdas Sesuai Rekomendasi Psikolog9 Etika Menggunakan HP yang Remaja Harus Tahu Cara menghadapi anak aktif Mengatur anak yang super aktif memang bukan hal yang mudah. Ia mungkin cenderung tidak bisa diam meskipun Anda memarahinya. Namun, berikut adalah beberapa cara menghadapi anak aktif yang bisa Anda lakukan: Terapkan aturan yang jelas di rumah Ingatkan anak untuk berhenti saat tidak bisa diam, tetapi jangan meneriakinya Buat instruksi yang rumit menjadi sederhana agar mudah dipahami Jauhkan anak dari hal-hal yang mengganggu perhatiannya Bantu anak membuat daftar tugas yang sederhana Berikan pujian pada anak saat menyelesaikan tugas dengan baik Beri waktu anak untuk bereksplorasi, misalnya bermain di luar Ajarkan anak untuk berdisiplin. Apabila Anda merasa kewalahan menghadapi anak, Anda bisa meminta bantuan pada pasangan atau keluarga. Berkonsultasi pada dokter juga mungkin diperlukan untuk memahami kondisi anak. Apakah anak terkena ADHD? Setelah memahami perbedaan anak aktif dan hiperaktif, terkadang orangtua merasa khawatir jika perilaku yang ditunjukkan anaknya merupakan tanda anak ADHD.Walaupun anak aktif artinya bukan selalu ADHD, orangtua perlu mewaspadai hal ini. ADHD adalah gangguan mental yang menyebabkan anak sulit memusatkan perhatian, serta berperilaku impulsif dan hiperaktif.Kondisi ini bisa sulit diidentifikasi sehingga penting mempertimbangkan segala aspek, bukan hanya soal berenergi atau tidaknya seorang anak. Terdapat beberapa gejala ADHD pada anak yang bisa orangtua waspadai, yakni: Tidak bisa duduk diam Melakukan gerakan yang berlebihan, seperti mondar-mandir atau melompat-lompat Sulit mengikuti suatu kegiatan dengan tenang Rentang fokus lebih pendek dan mudah terganggu Cenderung pelupa dan suka kehilangan barang Tidak mendengarkan atau menjalankan instruksi Kesulitan mengatur tugas Banyak berbicara Tidak bisa mengantre atau menunggu giliran Bertindak tanpa berpikir bahkan melakukan hal berisiko. Jika orangtua memiliki kekhawatiran anak terlalu aktif itu tandanya ADHD, konsultasikan kepada dokter spesialis anak. Dengan intervensi dan penanganan yang tepat, anak dengan ADHD bisa memiliki kualitas hidup yang baik.Perawatan standar untuk ADHD pada anak dilakukan dengan obat-obatan, terapi perilaku, konseling, dan layanan pendidikan. Perawatan ini dapat membantu meredakan gejalanya, tetapi tidak menyembuhkan.Jika Anda ingin tahu lebih banyak perbedaan anak aktif dan hiperaktif, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play. Sumber: SehatQ

8 Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif yang Bisa Orangtua Kenali Read More »

Ini Pantangan Setelah Vaksin Booster yang Perlu Diketahui

Pantangan setelah vaksin booster adalah berolahraga berat, mengabaikan protokol kesehatan, merokok, minum alkohol, dan mengunggah sertifikat vaksin ke dunia maya. Menjauhi pantangan akan membuat masa pemulihan sesudah vaksin lebih nyaman. Menerima vaksin booster akan meningkatkan imun tubuh. Dengan ini, tubuh Anda akan lebih siap ketika mendapatkan serangan virus Covid-19.Namun perlu diingat bahwa butuh beberapa minggu hingga kekebalan tercipta secara maksimal. Karena itu, setelah menjalani vaksin booster, ada beberapa pantangan yang harus Anda hindari. Pantangan setelah vaksin booster Covid-19 Beberapa pantangan setelah vaksin booster yang perlu Anda hindari meliputi: 1. Berolahraga berat Tunda olahraga berat setelah vaksin Covid-19Setelah mendapatkan vaksin booster, Anda tidak disarankan untuk melakukan olahraga berat setidaknya selama dua hingga tiga hari. Meski begitu, olahraga ringan tetap dianjurkan guna menjaga kebugaran.Olahraga berat atau aktivitas fisik yang terlalu berlebihan akan membuat tubuh kelelahan dan stres. Sebagai akibatnya, efek samping vaksin akan terasa lebih berat. 2. Merokok Melansir dari UNICEF, Anda dianjurkan untuk tidak merokok sesudah menerima vaksin booster. Pasalnya, rokok berpotensi memperparah efek samping vaksin.Rokok juga dikhawatirkan dapat memperburuk respons sistem imun, sehingga mengganggu efektivitas vaksin. Namun hingga saat ini, penelitian tentang hubungan rokok dan efektivitas vaksin belum banyak dilakukan. 3. Minum alkohol Pantangan setelah vaksin yang perlu Anda hindari selanjutnya adalah minum alkohol. Anda dilarang mengonsumsi zat ini setidaknya selama 24 jam setelah mendapatkan vaksin booster.Alkohol bisa mengurangi kesadaran seseorang. Karena itu, risiko Anda tidak menyadari adanya efek samping vaksin yang berbahaya saat mabuk, bisa meningkat. Misalnya, saat mabuk, Anda bisa saja tidak sadar bahwa sedang mengalami reaksi alergi akibat vaksin.Sama seperti rokok, adanya alkohol dalam tubuh juga dikhawatirkan akan menurunkan respons sitem imun. Akibatnya, efektivitas vaksin dapat terganggu. Untuk menghindari risiko ini, tunda minum alkohol selama setidaknya satu hari setelah vaksin. 4. Mengabaikan protokol kesehatan Setelah vaksin booster tetap harus pakai maskerMenerima vaksin booster bukan berarti akan membuat Anda kebal 100% terhadap penularan Covid-19. Jadi protokol kesehatan harus tetap Anda terapkan secara ketat.Tetaplah menggunakan masker dengan benar, mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, menjauhi kerumunan, menjaga jarak minimal satu meter dari orang lain, serta membatasi mobilitas.Lagi pula, dibutuhkan beberapa waktu hingga vaksin booster bisa benar-benar efektif dalam melindungi tubuh.Melansir dari situs Health, ahli penyakit infeksi dari Johns Hopkins Center for Health Security, dokter Amesh A. Adalja, menyebutkan bahwa vaksin booster yang terbuat dari mRNA (seperti vaksin Pfizer) akan mulai menunjukkan kinerja dalam tujuh hari sesudah disuntikkan dan memberikan proteksi maksimal dalam dua minggu pasca-penyuntikan. 5. Mengunggah sertivikat vaksin ke dunia maya Mengunggah sertifikat vaksin booster ke media sosial secara lengkap tanpa disensor juga termasuk sebagai pantangan setelah vaksin. Pasalnya, gambar ini dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.Pada sertifikat vaksin, tertera nomor KTP dan tanggal lahir lengkap Anda. Begitu juga batch vaksin dan tanggal vaksin diberikan.Jika Anda mengunggah gambar yang berisi begitu banyak data pribadi seperti sertifikat vaksin, risiko penyalahgunaan data akan semakin tinggi.Beberapa orang mungkin saja mencuri identitas Anda dan mengklaim bahwa sertifikat tersebut miliknya, maupun menggunakan data Anda untuk hal-hal berbahaya lainnya.Baca Juga: Berbagai artikel terkini seputar Covid-19 Antisipasi efek samping setelah vaksin booster Setelah vaksin booster, Anda mungkin akan merasakan beberapa efek samping yang berupa: Nyeri, bengkak, atau kemerahan di area bekas penyuntikan Nyeri badan atau nyeri otot Sakit kepala Lemas atau lelah Demam Mual Demam dan menggigil Tingkat keparahan efek samping vaksin booster yang dialami setiap orang dapat berbeda-beda. Sebagian orang bisa saja tidak merasakan efek samping, sementara sebagian lainnya mungkin saja mengalami efek samping yang cukup intens.Selama Anda menghindari pantangan setelah vaksin booster, proses pemulihan dari efek sampingnya dapat berlangsung dengan baik.Efek samping tersebut biasanya akan pulih sendiri dalam waktu beberapa hari. Tapi Anda bisa melakukan hal-hal di bawah ini untuk meredakan gejala yang mengganggu: Kompres area bekas penyuntikan dengan kompres dingin Gerakkan tangan yang disuntik secara aktif Banyak minum air putih Gunakan pakaian lebih tipis agar demam bisa segera turun Minum obat pereda nyeri atau penurun panas, seperti paracetamol Baca Juga Serba-serbi Vaksin AstraZeneca untuk Covid-199 Gejala Varian Omicron dan Kapan Seseorang Boleh Selesai Isolasi?Sedang Isoman di Rumah? Ini Daftar Vitamin untuk Covid Menurut Rekomendasi Dokter Catatan dari SehatQ Menerima vaksin Covid-19 serta menjalani protokol kesehatan 5M adalah satu ‘paket’ dan tidak bisa dipisahkan. Dengan menerima dan menerapkan keduanya, perlindungan tubuh dari virus corona pun dapat maksimal dan pandemi bisa cepat berakhir.Jika ingin tahu lebih banyak tentang vaksin Covid-19 dan pelaksanaannya, Anda bisa bertanya llangsung melalui fitur Chat Dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh sekarang di App Store dan Google Play. Sumber: SehatQ

Ini Pantangan Setelah Vaksin Booster yang Perlu Diketahui Read More »

Scroll to Top